C@tet@n h@mb@ dh@!f
PENCARIAN JATI DIRI YANG TAKKAN PERNAH USAI

Jun
03

Setelah cukup lama, 4 bulanan mungkin, akhirnya rasa kangen untuk menyelancari lautan wawasan tak terbatas di internet telah terobati. Di tempat saya mengais kepingan ilmu yang baru (biar terkesan dramastis atau puisi atau apalah ^_^) ada warnet yang baru saja di buka. Tanpa basa-basi saya pun langsung meluncur kesini untuk memuaskan dahaga dengan oase pengetahuan yang lagi2 bernama internet.
Waktu 4 bulan ternyata lebih dari cukup bagi saya untuk memperoleh sebutan atau “parapan”(dalam dialek jawa tengahan) “kuper”. Perjalanan awal, saya dibuat berdecak kagum dengan tindak-tanduk pemimpin negara timurtengah yang kini sedang menjadi musuh utama bagi Amerika yang katanya superpower, siapa lagi kalao bukan
DR. Mahmoud ahmadinejad. menurut saya untuk saat ini mestinya figur seperti beliaulah yang perlu di harapkan oleh bangsa tercinta kita, Indonesia yang kini tengah bersiap mengadakan lotre pengundian presiden. seorang pemimpin memang seharusnya menampakkan sisi kesahajaan, kesederhanaan. lihat sikap ahmadinejad dalam merangkul rakyatnya. andai pemimpin kita nanti mau dekat dengan rakyat tanpa alasan apapun. bangsa ini tentu akan bersatu.
sudah terlambat memang kalau kita kemudian kita menyodorkan nama-nama baru. karena memang telah terpilih 3 pasang calon pemimpin ini. harapan kini hanya tersisa pada mau tidaknya para calon yang ada, yang merupakan wajah-wajah lama dalam percaturan politik kita untuk segala tindak-tanduknya sebelum benar2 memimpin negeri.
jangan sampai hanya mencari muka pada masa kampanye seperti sekarang ini.

capek memikirkan negeri ini, terlalu banyak borok di sana-sini. tapi jangan perenah sampai putus asa kawan….

mau ikut nimbrung di kaskus, server sedang dalam perbaikan.

berita bagusnya. aku kini bisa fokus dengan aktifitas utamaku……

Des
29

Sabtu kemarin tanggal 28 Desember 2008, Dubes Iran untuk Indonesia Behrooz Kamalvandi, seperti dikutip kompas.com juga pada tanggal yang sama mengatakan bahwasanya antara Iran dan Indonesia memiliki banyak persamaan. Diantaranya bahwa iran dan Indonesia sama-sama merupakan anggota OKI (Organisasi Konferensi Islam ) dan gerakan non-Blok. Selain itu baik di Indonesia maupun di Iran, rakyat pemeluk agama lain dapat hidup damai dan berdampingan berlandaskan undang-undang masing-masing negara. Bahkan beliau juga mengungkapkan kekagumannya secara langsung pada masyarakat Indonesia indonesia yang meski masyarakatnya terdiri dari banyak suku, ras, agama dan golongan namun hidup selaras dan damai.

Apa yang dikatakan Dubes Iran tersebut barangkali bisa dikatakan sedikit menjawab polemik yang belakangan ini merebak demikian hebatnya dikalangan umat Islam di negeri ini tentang penting tidaknya pemberlakuan syariat Islam sebagai ideologi dan undang-undang negara menggantikan Pancasila dan UUD 1945. Mereka(kaum pro syariat Islam) menuding bahwa salah satu penyebab kian terpuruknya kondisi negeri ini di berbagai lini adalah karena negeri ita berada pada rel (ideologi dan UUD) yang salah. Mereka menuntut adanya pemberlakuan syariat islam di negeri ini secara kasarnya, NEGERI INI HARUS DIISLAMISASI. Parahnya, mereka kemudian memojokkan pihak-pihak yang kurang sepemikiran dengan mereka, dalam hal ini umat islam sendiri. Tentu hal tersebut sangat riskan terhadap integritas bangsa ini. Tetapi, sekali lagi penulis katakan, apa ang diungkapkan Dubes Iran tersebut secara tidak langsung mewakili pandangan dunia Islam sendiri terhadap Indonesia. Bahwa Islam yang dianut mayoritas penduduk di negeri ini membawa pada kehidupan yang penuh perdamaian meskipun tanpa Islamisasi seperti di negara Islam seperti Iran.

Kalau menilik permasalahan ini lebih jauh, sebenarnya sangatlah tidak beralasan jika mengkambinghitamkan sesuatu yang jelas tidak berhubungan dengan situasi riil bangsa ini apalagi hal tersebut menyangkut pilar-pilar utama penyangga kebhinekaan di negara ini. Tidak salah jika sebagian orang memberikan stereotip kepada para pro syariat islam sebagai kumpulan orang-orang yang tak tahu menahu tentang sejarah Islam di Indonesia ataupun sebagai orang-orang sombong karena telah berlagak menyalahkan para ulama terdahulu yang susah payah mempertimbangkan perbaikan piagam Jakarta menjadi Pancasila yang sekarang ini demi kebhinekaan dan integritas bangsa Indonesia maupun eksistensi Islam sendiri. Namun tentunya hal ini tidak perlu di bahas lebih lanjut karena pastinya tidak akan pernah ada titik temunya.

Yang terpenting dalam menyikapi situasi di atas adalah, apakah perlu kita memperjuangkan syariat islam jika tanpa syariatisasi pun kenyataannya umat islam dapat hidup damai, penuh toleransi dengan pemeluk agama lain. Tidakkah iitu merupakan tujuan islam yang rahmatan lil ‘alamin?. Bukankah justru dengan adanya keinginan untuk mengislamisasi negeri ini justru sekarang ini toleransi beragama di negeri ini mulai terancam?. Belum lagi jika ditambah dengan perseteruan antar pemeluk islam itu sendiri.

Tentu hal ini perlu kita renungkan bersama tidak hanya para pro-syariat islam tetapi juga kepada pihak-pihak yang masih menginginkan perubahan pada ideologi dan undang-undang kita. Betapa Pancasila maupun UUD 1945 sejatinya merupakan pondasi paling ideal bagi keberagaman di negeri ini. Karena memayungi seluruh kepentingan mendasar tiap-tiap individunya.

Kalau sudah begitu, tidakkah dalang dari carut marutnya negeri ini merupakan manusia itu sendiri yang yang telah di kuasai oleh nafu hewaniahnya??? Tidakkah para pro syariah slam takut kalau justru dengan syariatisasi islam akan semakin menjerumuskan negeri ini dalam kecarutmarutan hanya karena beberapa orang dari kalangan islam sendiri berlindung di balik islam yang formal untuk kepentingan pribadinya??? Tidakkah hal tersebut berpengaruh pada Islam sendiri???

Itu berarti yang terpenting bukan Indonesia yang Islam, tetapi Islam yang Indonesia. Yakni Islam yang fleksibel, dinamis dalam menyikapi segala perbedaan di negeri ini. Islam yang lebih mementingkan religiusitasnya daripada sekedar formalitas belaka. Iya bukan??

Des
25

Akhir-akhir ini dunia pendidikan kita digemparkan oleh pengesahan Rancangan Undang-undang Badan Hukum Pendidikan. Terkesan “nekat” memang. Mengingat begitu dahsyatnya kontrofersi yang ditimbulkan bahkan pada awal-awal dipopulerkannya wacana pembentukan RUU tersebut, sampai akhirnya kini sudah mendapat persetujuan dari DPR. UU yang secara garis besarnya berisi tentang pelegalan privatisasasi institusi pendidikan ini memang seolah menohok para pelaku dan komponen yang menyertai pendidikan di republik ini yang diartikan secara sempit berarti rakyat Indonesia. Bagaimana tidak, ditengah kian tidak terjangkaunya pendidikan di negeri ini oleh seluruh lapisan rakyat, ditambah lagi bagi yang telah mampu menjangkaunya belum tentu mendapat jaminan memperoleh pendidikan yang benar-benar bermutu, Pemerintah justru secara “sengaja“ membuka peluang untuk komersialisasi pendidikan. Tentunya ini sangat melukai pihak-pihak yang sadar dan peduli oleh nasib pendidikan di negeri ini. Seakan pemerintah hendak membodohi rakyat Indonesia yang mayoritas penduduknya memang masih terkungkung dalam kabut kebodohan yang tak kunjung hilang, atau bahkan sengaja dihalang-halangi usaha untuk menghilangkan kabut kelam tersebut.

Dalam perspektif lain, kita bisa juga mengatakan bahwa gonjang-ganjing pengesahan UU BHP secara tidak langsung mewakili watak pelaku pendidikan kita yang “manja”. Alih-alih bersikap proaktif dengan menguatkan sub-sub pendidikan di negeri ini menjadi sebuah sistem pendidikan yang mandiri dan antipati terhadap kapitalisme dan segala korporasinya, para pelaku pendidikan kita malah bersikap reaktif. Sikap reaktif yang ditunjukkan oleh institusi-institusi pendidikan,para pengamat pendidikan,mahasiswa, ataupun pihak -pihak lain bahkan sama sekali tidak mencerminkan sikap mendidik ataupun terpelajar. Pendidikan yang seharusnya mengajarkan nilai-nilai kemandirian, kebersamaan seakan hilang, bahkan hal ini sepertinya sudah lama terjadi jauh sebelumada desas-desusu seputar UU BHP. Yang ada sekarang ini hanyalah pendidikan yang menggantungkan segala tetek bengek urusan pendidikan kepada pusat (desentralisme), meski secara formalitas sistem pendidikan kita telah otonomi.

Kalau kita berusaha menelaah lebih jauh, terseret atau tidaknya pendidikan kita ke dalam arus kapitalisme bukan semata tergantung pada ada tidaknya UU BHP itu sendiri. Faktanya, tanpa undang-undang tersebut pun biaya pendidikan negeri di ini memang semakin menggila, apalagi kwalitasnya juga semakin menurun. Intinya terseret atau tidaknya pendidikan di negeri ini kepada arus kapitalisme tergantung pada mau atau tidaknya para penyelenggra pendidikan di negeri ini untuk menghentikan usaha untuk menjerumuskan pendidikan di negeri ini ke dalam jurang kapitalisme itu sendiri. Yang menjadi pertanyaan sekarang ini adalah: sudahkah para penyelenggra pendidikan di republik ini berpikir untuk memajukan bangsa, bukan semata memikirkan nafsunya sendiri seperti selama ini?, sudah adakah kesadaran dari seluruh komponen pendidikan kita untuk memperbaiki kesalahan dan segera melawan segala kapitalisme pendidikan apapun bentuknya?. Kalu jawabannya tidak. Tinggal menunggu saja kapankah saatnya pendidikan di negeri ini benar-benar hancur. Pada akhirnya negeri ini pun akan hancur karena output pendidikan kita akan menghamba pada kapitalime. Kita sendiri akan menjadi tamu di sini. Karena pasti kita akan kalah melawan segala bentuk kappitalisme.

Jika sudah begini, tidakkah lebih baik menjawab pengesahan UU BHP sebagai tantangan ke depan mulai detik ini untuk membenahi sistem pendidikan di negeri ini menjadi sistem yang mandiri? Sistem yang ditentukan oleh masing-masing komponen yang ada, bukan sistem terpusat seperti kenyataan sekarang ini. Meski kita mengatakan usaha untuk itu terkesan terlambat, bukankah terlambat lebih baik dari pada tidak sama sekali???

Des
22

Gerbang pemilu 2009 kian terlihat di depan mata. Bangsa ini kini tengah berharap-harap cemas menanti kehadiran calon pemimpin baru, meski bisa saja incumbent kembali menjabat. Meski kejenuhan rakyat ini terhadap para pemimpin negeri ini yang tidak lekas belajar mengapa negeri sebesar dan semakmur ini tak kunjung baik, bahkan terperosok lebih dalam lagi(kalau tak mau di sebut dungu). Hal
tersebut sangat kentara jika kita kembali melihat catatan pilkada yang telah di selenggarakan hampir di seluruh provinsi di negeri ini. Kejenuhan tersebut penulis kira bukan tanpa alasan. Meski kini, hampir seluruh partai berlomba2 mencalonkan calon2 legilatif yang dinilai masih “fresh” tetap para dedengkot partai tersebut merupakan wajah-wajah lama yang memang sudah semangat masyhur kebusukan atau ketidakbecusannya.

Seakan tak mau tahu atau secara halus bias diartikan sengaja untuk terlihat tidak tahu dengan kebutuhan rakyat ini, seluruh parpol secara terbuka telah menabuh genderang perangnya. Berbagai taktik dan siasat telah dipersiapkan untuk merebut singgasana negeri ini. Taktik dan siasat yang dipakai pun kian beragam. Ada yang tetap pada pattern lama seperti janji-janji tak mutu yang sebenarnya orang terbodoh di negeri ini pun sudah tahu kalau itu hanya omong kosong meski tetap memilihnya, ada pula yang memakai taktik dan siasat yang telah di modifikasi sedamikian rupa oleh para panglima perang masing2 parpol seperti pendekatan secara publikatif kapada komunitas-komunitas terpinggirkan di negeri ini. Para pemeran lakon pemilu 2009 tersebut sudah tahu bahwa apa yang mereka tawarkan sebenarnya hanya akan menjadi pelecut api kemarahan rakyat jikalau mereka sengaja memungkiri janji2nya jika terpilh. Tetapi merekapun tentunya lebih paham “kepolosan” rakyat kita yang hanya denga sedikit kebijakan populis akan lupa oleh segala kebodohan pemimpnnya.

Sang empunya singgasana pun tak mau ketinggalan. Dengan segala kebijakan popular, seakan (kalau tidak mau di bilang secara jelas) menjadi pertanda bahwa beliau pun siap menghipnotis rakyat ini dengan membawa mereka terhanyut dalam ekstase kenyamanan semu. Apalagi dengan modal kegagahan dan ketampanan yang meski pada pemilu klai ini menurut polling telah ada pesaingnya. Seakan tak peduli dengan ketidakberdayaannya di hadapan elit kapitalis ketika sedang berkuasa.

Rakyat negeri ini pun seharusnya mulai belajar untuk kian selektif atraupun kritis dalam menentukan pilihannya dalam pemilu atrau pilpres 2009. rakyat harus mulai mengatakan tidak pada caon-calon yang secara kasat mata benar-benar terlihat tengah melakoni pagelaran ludruk. Mereka bersandiwara di depan dengan mimik seolah2 dipenuhi rasa ingin merubah negeri ini. Tetapi dibelakang justru berleha-leha memikirkannya. Seperti pemimpin yang sudah2. di depan kelihatan serius ternyata belakangan ini terlihat hobi baru mantan kaisar kita tersebnut adalah “ngobrol” tentang resep-resep masakan atau mode yang up to date. Rakyat harus belajar untuk menunggu dan tidak langsung reaktif terhadap kepemimpinan di negeri ini. Pelajari dulu baik dan buruknya kebijakan yang keluar dari calon pemimpin kita nantinya. Baru klau memang terlihat sama seperti yang sudah2 kita boleh menerukan pelengseran. Intinya rakyat harus belajar berpikir obyektif dan cerdas dalam bersikap.

Parpol peserta pilpres 2009 pun seharusnya sudah mulai sadar. Bahwa jika kita mau merubah negeri ini secara substansial menjadi negeri yang lebih baik(bukan secara struktural dan formal), maka diantara mereka harus ada semacam persaingan yang bermoptif ingin membangun bangsa. Artinya siapapun pemimpin yang terpilh nantinya. Mereka harus tetap pada komitmen untuk membangun bangsa. Pada akhirnya para oposan bias menjadi “partner” yang mengimbangi pemimpin kita agar tetap merakyat. Tentunya tetap dalam koridor demi kepentinga rakyat bukan prinadi parpol itu sendiri.

SIAPAPUN PEMIMPINNYA SEBENARNYA TIDAK AKAN BISA SERMENA-MENA DAN RAKYAT BISA MEMAKSANYA UNTUK MERAKYAT JIKA JIKA RAKYAT MULAI BELAJAR CERSDAS. KARENA SEJATINYA PEMIMPIN-PEMIMPIN BENGIS NAN DIKTATOR HANYA LAHIR PADA NEGERI YANG MAYORITAS PENDUDUKNYA BODOH DAN TAK PUNYA NYALI UNTUK MNERIAKAN KEBERNARAN

Des
22

Selalu saja…tatkala hasrat tuk menumpahkan segala isi hati. seakan ada beban beribu2 kilo di pundak ini, seprti itulah beratnya mengalahan seta kemalasan yang bersemayam di diri ini.

padahal, aku kira pikiran2  trsebut begitu penting unt terleatkan. kalaupun kemudian ada pikiran2 tersebut kembali hadi, rasanya akan sangat berbeda.

tak taulah, mengap semangatku yang urasa tak pernah pudar tak kunjung mau menampakkan tajinya, meinimal untuk diriku sendiri???

ataukah diri ini terlalu merasa “gumede”???

apakah yang pantas dibanggakan bagi seorang makhluk????

aku mau terus melawan dan melawan.!!!

Okt
22

Jakarta – Tersingkapnya kasus-kasus pembunuhan yang dilakukan Very Idam alias Ryan, menambah catatan rangkaian pembunuhan berantai di Indonesia. Selama 15 tahun terakhir, sedikitnya ada 8 pembunuhan berantai. Yang jadi korban, bisa teman dekat, ada juga yang tak punya hubungan apa-apa dengan pelaku.

Para pelaku pembunuhan berantai itu divonis hukuman mati. Kasus pembunuhan berantai apa dan siapa saja pelakunya?

1994 – Harnoko Dewanto, pelaku pembunuhan 3 orang di Los Angeles, Amerika Serikat (Gina, Eri, Suresh). Vonis hukuman mati 1996Ny Astini, pelaku pembunuhan 3 orang di Surabaya. Vonis hukuman mati dan telah dieksekusi tahun 2005

1996Siswanto (Robot Gedhek), pelaku pembunuhan 6 anak jalanan di Jakarta. Vonis hukuman mati dan telah meninggal dunia pada 2007

1997Ahmad Suraji, pelaku pembunuhan 42 wanita di Medan. Vonis hukuman mati, telah dieksekusi pada 2008

2001- Rio Alex Bulo (Rio Martil), pelaku pembunuhan 4 orang di Jabar, Jateng, Jatim ditambah 1 orang selama di LP Nusakambangan. Vonis hukuman mati

2005 – Iptu Garibaldi Handayani, pelaku pembunuhan 7 orang di Jambi. Vonis hukuman mati

2007- Tubagus Yusuf Maulana (Dukun Usep), pelaku pembunuhan 8 orang di Lebak. Vonis hukuman mati, telah dieksekusi 2008

2008- Verry Idham Henyaksah (Ryan), pembunuhan terhadap 5 orang: 1 orang di Depok dan 4 orang di Jombang, Jawa Timur. Diduga masih ada korban-korban lainnya. Kasus masih dalam tahap penyidikan.(asy/asy)

info : detik.com

Beberapa kasus korupsi di Indonesia: 1. Kasus dugaan korupsi Soeharto: dakwaan atas tindak korupsi di tujuh yayasan 2. Pertamina: dalam Technical Assistance Contract dengan PT Ustaindo Petro Gas 3. Bapindo: pembobolan di Bank Pembangunan Indonesia (Bapindo) oleh Eddy Tansil 4. HPH dan dana reboisasi: melibatkan Bob Hasan, Prajogo Pangestu, sejumlah pejabat Departemen Kehutanan, dan Tommy Soeharto. 5. Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI): penyimpangan penyaluran dana BLBI 6. Abdullah Puteh: korupsi APBD.

Berikut ialah daftar para pejabat tinggi Indonesia yang pernah ditahan atau dipenjara karena kasus kriminal atau korupsi. Untuk pejabat yang ditahan karena kasus politik : Abdullah Puteh, mantan Gubernur Aceh Abilio Soares, mantan Gubernur Timor Timur, karena dakwaan ‘Dunia Internasional’ Akbar Tandjung Basuki (politikus), mantan ketua DPRD Surabaya Beddu Amang, mantan Kepala Bulog Bob Hasan, mantan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Hendro Budiyanto, mantan direktur Bank Indonesia Heru Supraptomo, mantan direktur Bank Indonesia Hutomo Mandala Putra Soeharto, anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat Ida Bagus Oka, mantan Gubernur Bali dan Menteri Sosial M. Sahid, wakil walikota Bogor Mulyana W. Kusumah, anggota KPU Nazaruddin Sjamsuddin, ketua KPU Nurdin Halid, ketua PSSI Paul Sutopo, mantan direktur Bank Indonesia Rahardi Ramelan, mantan Menteri Perdagangan Rusadi Kantaprawira, anggota KPU Safder Yusacc, mantan sekjen KPU Said Agil Husin Al Munawar, mantan Menteri Agama Sri Roso Sudarmo, bupati Bantul Suyitno Landung, mantan kepala Badan Reserse dan Kriminal Polri Syafruddin Temenggung, mantan kepala Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN). Menjadi tersangka kasus jual beli pabrik gula Rajawali III, dan ditahan pada 22 Februari 2006. Syahril Sabirin, mantan Gubernur Bank Indonesia Theo Toemion, mantan kepala BKPM

KESADARAN MASYARAKAT KITA AKAN LINGKUNGAN:

Dua hari yang lalu aku mencoba menelusuri salah satu daerah di sekitas daratan tinggi kota Salatiga tepatnya didaerah kecamatan tingkir, karena untuk sementara ini saya memang menetap di sini. Subhanalloh!! Berkali2 saya terkagum2 akan keindahan alam di sini. Menghirup udara yang benar2 bersih jauh dari kesan polusi yang memang sekarang ini menjadi polemic utama di daerah ibukota serta kota2 besar lainnya. Pada awal perjalanan saya, saya sempat membayangkan kondisi alam yang benar2 perawan. Sungainya mengalir jernih. Lahan2 pertanian subur, pokoknya sebagai fragmen kecil dari Indonesia yang dikenal GEMAH RIPAH LOHJINAWI yang jika di teropong dari atas laksana ZAMRUD KATULISTIWA. Semangat sekali ketika itu. Saya bahkan sempat melupakan jarak, ke tempat tujuan saya di daerah tingkir tengah..

Ketika saya dalam separuh perjalanan segala yang ada dalam pikiran saya sirna. Sedikit banyak saya mengalami kekecewaan, kesedihan setelah mengetahui kondisi riil di sepanjang salura irigasi. Disana-sini saya mendapati banyak sampah. Belum lagi adanya bangunan SMKN baru yang sarat akan dugaan penyelewengan kekuasaan(wajarlah Indonesia, begitu kata beberapa orang yang sudah lelah mendengar ketidakberesan di negeri ini). Nyata2 pembangunan sarana pendidikan tersebut kurang diperlukan oleh masyarakat sekitar, karena memang akses pendidikan disini baik. Apalagi pembangunan tersebut jelas Mengurangi debit air, yang tentu saja amat merisaukan petani.

Perjalan saya lanjutkan, saya semakin mendongkol tatkala melihat pepa2 besar membelah areal persahan. Kebetulan ada begian pipa yang bocor dan mennyemburkan air khas pegunungan yan sangat segar. Ternyata ini yang menjadi bahan pembicaraan warga, ya! Pipa PT DAMATEX yang perizinannya pun sarat akan politiik kepentingan beberapa orang. Jelas ini merupakan factor utama rusaknya ekosistem disini tentunya selain kesadaran masyarakatnya akan lingkungan.

SEBUAH PERENUNGAN:

TINGKAT KESADARAN MASYARAKAT KITA BENAR-BENAR PARAH HINGGA SAMPAI PADA TAHAP MENGHAWATIRKAN, ENTAH ITU KESADARAN TUK HIDUP DENGAN SESAMANYA ATAU KESADARAN TERHADAP LINGKUNGAN/ALAM. MASYARAKAT KITA SEKARANG INI MULAI MENGARAH PADA MASYARAKT YANG EGOUISTIS, ACUH TERHADAP ORANG LAIN MAUPU ALAM SEKITARNYA. KEPEKAAN SOSIAL MEREKA SEPERTINYA HAMPIR TERKIKIS HABIS.

KALAU KITA TINJAU KEMBALI, SEBENARNYA HAL TERSEBUT BERAWAL DARI KURANGNYA KOMUNIKASI DIANTARA INIVIDU-INDIVIDU YANG MENJADI KOMPONEN DALAM MASYARAKAT, SEHINGGA SEMANGAT KEGOTONG-ROYONGAN YANG MENJADI CIRI KHAS MASYARAKAT KITA SEAKAN KEHILANGAN RUHNYA..

SADAR ATAUPUN TIDAK,SEBENARNYA MUARA DARI PERMASALAHAN TERSEBUT ADALAH KARENA MENTAL MASYARAKAT KITA TELAH TERKONTAMINASI OLEH KAPITALISME YANG DIUSUNG OLEH NEGARA-NEGARA BARAT DAN AMERIKA SERIKAT MELALUI INDUSTRIALISASI BESAR-BESARAN. BAHKAN SANG MENGKONTAMINIR MASYARAKAT KITA TELAH BERMETAMORFOSISMENJADI BERBANGAI BENTUK YANG TERKADANG TANPA SADAR KITA TELAH MEMBERI SUPPORT PADA BENTUK-BENTUK BARU KAPITALISME INI. KAPITALISME TELAH BERSENYAWA DENGAN SISTEM PENDIDIKAN, PERUNDANG2AN YANG TENTUNYA DI AWALI OLEH PERUBAHAN PANDANGAN HIDUP PARA TOKOH BANGSA SAAT INI. SARAT IRONIS MEMANG, KITA SEKARANG INI MERUPAKAN BANGSA BESAR YANG SEDANG DALA PROSES PENGERDILAN MENTAL, MENTALITAS BERBANGSA DAN BERNEGARA. DAN KITA AKAN MENJADI BENAR-BENAR KERDIL KALAU TIDAK SEGERA BERUBAH.

YANG LEBIH MENYEDIHKAN ADALAH KETIKA BANGSA INI MENGALAMI KETERPURUKAN, SEGELINTIR ORANG BERUSAH MEMANFAATKAN SITUASI DENGAN BERUSAHA MEMANCING DIAIR KERUH. MEREKA MENGGARONG HAK-HAK SAUDARANYA SENDIRI.

TAK PERLU KITA TERJEBAK DALAM MASA LALU DENGAN DENGAN SALING MENYALAHKAN MENGAPA BANGSA INI TERPURUK. APALAGI DENGAN MENUDING REZIM-REZIM TERTENTU SEBAGAI YANG PALING BERTANGGUNG JAWAB. KARENA ITU TIDAK AKAN MEMBAWA PERUBAHAN BERARTI. YANG TERPENTING SEKARANG INI ADALAH BAGAIMANA KITA MENGAWALI PERUBAHAN DARI SEKUP YANG LEBIH KECIL, YAKNI DIRI KITA SENDIRI. BUKANNYA SEPERTI POLITISI YANG KERJANYA SALING TUDING SANA SINI YANG TERNYATA KEMUDIAN MALAH MENJADI PESAKITAN KARENA MEREKA ADALAH PERAMPOK YANG BERTERIAK MALING.

SAMPAI KAPAN INI AKAN BERUBAH?????

KALIBENING,23 OKTOBER 2008

Okt
18

 

CINTAKU……..

           TERTAMBAT TEMPIKMU…….

CINTAMU…….

            TERPAUT PELIKU………

KALA KU CINTAIMU

ITU ARTINYA………..

PELIKU MENCARI TEMPIKMU

             KALA KAU CINTAIKU

             ITU ARTINYA…………

             TEMPIKMU MERENGEK-RENGEK….. MINTA PELIKU

CINTAKU DAN CINTAKU TERMAKAN WAKTU….KINI…………

            PELIKU DAN TEMPIKMU SALING JENUH…….

CINTAKU TAK LAGI PADAMU,

KAU PUN MENJAUHIKU…….

                                              19 OKTOBER 2008,

(MUHAMMAD AZKA FAHRIZA)

Okt
15

 

    “berjalan seorang pria muda
dengan jaket lusuh dipundaknya
di sela bibir tampak mengering
terselip s’batang rumput liar

jelas menatap awan berarak
wajah murung s’makin terlihat
dengan langkah gontai tak terarah
keringat bercampur di jalanan

engkau sarjana muda resah mencari kerja
mengandalkan ijasahmu
empat tahun lamanya bergelut dengan buku
‘tuk jaminan masa depan

langkah kakimu terhenti didepan halaman sebuah jawatan

termenung lesu engkau melangkah
dari pintu kantor yang diharapkan
terngiang kata tiada lowongan
untuk kerja yang didambakan

tak perduli berusaha lagi
namun kata sama kau dapatkan
jelas menatap awan berarak
wajah murung s’makin terlihat

engkau sarjana muda resah tak dapat kerja
tak berguna ijasahmu
empat tahun lamanya bergelut dengan buku
sia sia semuanya

setengah putus asa dia berucap :
ma’afkan aku … ibu … “

 

lirik lagi iwan fals yang dibuat iwan fals pda zaman orde baru seakan mewakili betapa buruknya sistem pendidikan di Indonesia. meski sebetulnya permasalahan pendidikan yang tengah kita hadapi sangat kompleks. Boleh jadi iwan fals mengarang lagu tersebut sebagai kritikan pedas terhadap pemerintah yang tidak becus menangani nasib pendidikan anak negeri. Karena waktu itu memang Indonesia tengah berada dalam genggaman tangan besi orde baru. Tetapi apakah lantas setelah reformasi problem tersebut telah teratasi. Kalau kita lebih jeli melihat realitas yang ada sesungguhnya situasi yang ada bahkan lebih parah. Era reformasi dengan demokrasinya bahkan kini disalah artikan oleh kebanyakan masyarakat. kebebasan berpolitik yg ditawarkan oleh era reformasi memicu sebagian masyarakat kita untukberlomba memperebutkan tampuk kekuasaan, entah bagaimanapun caranya. mereka berlomba2 menjunjung prestise masing2. salah satunya dengan penampangan ijazah akademisi. seolah mengajarkan kepada generasi muda kita pentingnya berijazah hal tersebut diperparah dengan seluruh sistem yang entah memang disetting untuk menyiksa rakyat atu tidak. apapun kuni seakan2 perlu adanya pengakuan akademisi yang di sebut IJAZAH. kita pun seakan sedang disuruh memalan buah simalakama. Tak berijazah kita dikondisikan takut menghadapi hidup, tapi berijazah pun tak menawarkan perubahan.

kita tidak akan berubah kalau tidak bergerak melawan. untuk saat ini  meman g melawan menjadi solusi tepat yang berbahaya. karena kita tengah melawan bentuk penjajahan yang tengah berevolusi

Okt
04

YA ALLAH, sudikah Engkau memberikan ampunan pada hamba-Mu yang hina dina lagi dhaif ini????

“Sekeras apapun ikhtiar manusia, pada akhirnya Allohlah yang menentukan segalanya. Lagi-lagi aku diingatkan oleh Alloh akan kebesaran-Nya itu. Kemarin sore saja seolah-olah aku sudah bisa menerbitkan tulisanku disini, tulisan tentang ikhwal pembuatan blogger ini yang isinya antara lain memuat alas an penamaan judul blogger yaitu al-faqir. Tapi ternyata Alloh berkehendak lain. Sesaat sebelum aku mengklik kanan tanda untuk menerbitkan, fileku tiba-tiba saja hilang. Bahkan di undo pun unresponding. Padahal waktu sudah menunjkkan pukul 05.24, itu artinya 6 menit lagi sudah adzan maghrib. Aku musti pulang dari warnet untuk berbuka, maklum sejauh ini aku belum punya akses internet dari rumah. Jadilah aku harus menyudahi aksi petualanganju di dunia maya.”
Mustinya setiap orang didunia ini menyadari hal-hal seperti yang telah saya ceritakan di atas. Betapa besarnya kekuasaan rabbul ‘izzati yakni Alloh jika dibandingkan dengan daya manusia yang teramat kecil. Tapi memang sudah menjadi watak dasar menusia yang memang. Ketika nafsu sudah tidak mampu lagi dikendalikan oleh akal, maka saat itulah manusia telah buta. Dan hal ini memang telah terjadi sejak awal sejarah manusia, yakni ketika Qobil menghabisi saudaranya Habil. Kejadian serupa terus terulang dengan berbagai bentuk manifestasinya seiring dengan “kemajuan” peradaban manusia. Begitupun intensitasnya.
Manusia kini, bahkan sepertinya dengan terang-terangan berusaha untuk menantang kekuasaan Alloh. Padahal mereka tahu itu mustahil dan tidak akan pernah terjadi. Manusia kini telah menjelma menjadi hakim bagi sesama. Mereka bahkan rela mengorbankan saudaranya sendiri sesame manusia tuk memuaskan dahaga hewaniah mereka yang seringkali mendominir jiwanya. Bagi mereka: “dunia adalah milikku, aku yang berhak mengatur, aku yang berhak menguasai”. Pada akhirnya hukum rimba akan diterima sebagai kewajaran dlam berkehidupan.
Sungguh, hal-hal seperti itu sangat bertolak belakang dengan ajaran agama-agama yang ada didunia, agama Islam pada khususnya. Islam datang membawa kedamaian universal. Lasana lentera yang senantiasa menyinari kegelapan. Yang takkan pernah padam sampai kapanpun apabila dipegang teguh oleh tiap-tiap pemeluknya. Sampai pada sebuah kesadaran ketika kita merenungkan hal tersebut. Harus ada perubahan secara menyeluruh pada sendi-sendi kehidupan atau bisa dikatakan ajaran-ajaran islam harus ditransformasikan lebih maksimal dari sekarang ini ke dalam kehidupan nyata. Tidak seperti yang terjadi belakangan ini, dimana banyak orang yang terlalu meributkan masalah prinsipil dalam berkeyakinan.
Perubahan itu harus segera ada. Tapi sampai kapan?????

al-f@qir Muhammad Azka Fahriza

(Artikel ini ditulis tgl 17 September 2007)

Sep
17

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!